MONEVONLINE.ID, BANDAR LAMPUNG – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong percepatan pembangunan infrastruktur strategis guna mendukung hilirisasi komoditas unggulan di Provinsi Lampung. Hal itu disampaikannya saat menerima Kunjungan Kerja (Kunker) Spesifik Komisi V DPR RI di Lamban Sabah Resto, Kamis (29/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Mirza menegaskan bahwa dukungan infrastruktur nasional sangat dibutuhkan untuk memperkuat posisi Lampung sebagai lumbung pangan sekaligus pusat hilirisasi komoditas strategis.
Di hadapan anggota Komisi V DPR RI, Mirza memaparkan bahwa struktur ekonomi Lampung masih didominasi sektor komoditas dan pertanian. Ia menyebut Lampung menyumbang sekitar 70 persen produksi singkong nasional, 70 persen ekspor kopi nasional, serta menjadi salah satu produsen utama jagung dan padi di Indonesia.
“Namun permasalahannya, komoditas ini belum sepenuhnya meningkatkan kemakmuran masyarakat, terutama petani, karena sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah. Pemerintah Pusat telah menetapkan Lampung sebagai daerah hilirisasi pangan, dan ini menjadi tantangan bagi kami untuk membangun kawasan industri berbasis komoditas,” ujar Mirza.
Ia juga menyoroti beban infrastruktur jalan di Lampung yang cukup berat. Menurutnya, jalan-jalan di provinsi ini setiap hari dilalui kendaraan logistik dengan tonase besar yang mengangkut hasil bumi dan batu bara, namun memiliki nilai ekonomi rendah per kilogram sehingga mempercepat kerusakan jalan.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung mengusulkan penguatan konektivitas antara Jalan Tol Trans Sumatera dengan pelabuhan serta kawasan industri.
“Kami memiliki pelabuhan dengan kedalaman minus 16 meter yang bisa disandari kapal besar. Namun masih terjadi bottleneck karena belum ada akses langsung ke tol,” jelasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Mirza bersama Komisi V DPR RI juga meninjau pintu keluar Gerbang Tol Lematang yang direncanakan menjadi titik awal pembangunan ruas Tol Lematang–Pelabuhan Panjang. Proyek ini diharapkan mampu memperkuat konektivitas dan memperlancar distribusi logistik di Lampung.
Ruas tol tersebut nantinya akan menghubungkan Jalan Tol Bakauheni–Terbanggi Besar dengan Pelabuhan Panjang di Bandar Lampung. Dengan tersambungnya dua infrastruktur utama tersebut, arus logistik dari dan menuju pelabuhan, termasuk distribusi batu bara dari Sumatera Selatan, diharapkan menjadi lebih cepat dan efisien.
Secara teknis, Tol Lematang–Pelabuhan Panjang direncanakan memiliki panjang 11,68 kilometer yang terbagi dalam dua tahap pembangunan. Tahap pertama akan dibangun dengan konstruksi at grade sepanjang 6,76 kilometer, sementara tahap kedua berupa konstruksi elevated sepanjang 4,92 kilometer.
Nilai investasi tahap pertama diproyeksikan mencapai Rp2,11 triliun dengan estimasi lalu lintas harian sekitar 7.610 kendaraan.
Tol ini juga dinilai memiliki peran strategis karena akan memperkuat konektivitas sejumlah kawasan penting, seperti Pelabuhan Panjang, kawasan ketahanan pangan, pangkalan TNI AL, Kawasan Wisata Terpadu Teluk Lampung, hingga rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Teluk Pandan dan KEK Teluk Ratai.
Gubernur Mirza berharap Komisi V DPR RI dapat memperjuangkan dukungan anggaran dari APBN untuk peningkatan status dan pelebaran jalan nasional di Lampung. Selain itu, ia juga mendorong pembangunan jalur ganda (double track) kereta api agar angkutan logistik dan penumpang dapat dipisahkan, sehingga arus ekonomi di gerbang Pulau Sumatera semakin lancar.*




